“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” — Imam Malik rahimahullah
Pendahuluan
Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu bukan hanya sekadar kegiatan akademik, tetapi merupakan ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah ?. Ilmu yang bermanfaat tidak lahir dari banyaknya hafalan semata, melainkan dari hati yang bersih dan adab yang terjaga. Karena itu, para ulama terdahulu selalu berpesan: “Adab sebelum ilmu.”
Tanpa adab, ilmu bisa menjadi sumber kesombongan; dengan adab, ilmu menjadi jalan menuju keberkahan dan cahaya petunjuk Allah.
1. Ilmu, Cahaya yang Menuntun
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Ayat ini menjadi dasar bahwa ilmu harus dicari dengan niat yang benar — semata-mata karena Allah ?. Ilmu yang tidak diiringi keikhlasan akan kehilangan berkahnya, meski tampak luas dan mendalam.
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Muj?dilah [58]: 11)
2. Keutamaan Menuntut Ilmu
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)
Setiap langkah menuju majelis ilmu adalah langkah menuju kebaikan dan surga. Menuntut ilmu bukan hanya untuk dunia, tetapi sebagai perjalanan spiritual menuju ridha Allah.
3. Adab-Adab dalam Menuntut Ilmu
a. Ikhlas karena Allah
“Barang siapa menuntut ilmu untuk menandingi ulama, membantah orang bodoh, atau menarik perhatian manusia, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Ibnu M?jah no. 253)
Menuntut ilmu adalah ibadah. Maka niatkan untuk mencari ridha Allah, bukan untuk riya’ atau kebanggaan. Ikhlas menjadikan ilmu berbuah manfaat dan keberkahan.
b. Menghormati Guru dan Ulama
“Aku membuka lembaran di hadapan guruku dengan pelan, agar tidak mengganggu beliau dengan suara lembaran itu.” — Imam Asy-Syafi’i
Guru adalah perantara yang menyampaikan ilmu dan hikmah. Menghormati guru merupakan bagian dari menghormati ilmu itu sendiri.
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi...” (QS. Al-Hujur?t [49]: 2)
c. Rendah Hati dan Tidak Sombong
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.” (QS. Al-Isr?’ [17]: 37)
Ilmu sejati menumbuhkan kerendahan hati. Semakin seseorang berilmu, seharusnya semakin ia sadar bahwa masih banyak yang belum ia ketahui.
d. Bersungguh-Sungguh dan Disiplin
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankab?t [29]: 69)
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal yang cukup, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.”
e. Mengamalkan Ilmu
“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang ilmunya: apa yang ia amalkan dengannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2417)
Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Amal adalah bukti kejujuran seseorang dalam menuntut ilmu.
4. Buah dari Ilmu yang Beradab
Jika ilmu disertai adab, maka hasilnya adalah :
- Akhlak yang lembut dan santun.
- Kehidupan yang tenang dan penuh berkah.
- Masyarakat yang berilmu dan beretika.
Namun bila ilmu tidak disertai adab, ia justru melahirkan kesombongan dan kebinasaan hati.
Penutup
Menuntut ilmu adalah perjalanan menuju Allah. Hendaknya setiap penuntut ilmu menjaga niat, menghormati guru, bersungguh-sungguh, serta mengamalkan apa yang telah dipelajari.
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” — Imam Malik rahimahullah
Semoga Allah menjadikan kita semua penuntut ilmu yang beradab, berakhlak, dan mendapat cahaya ilmu yang bermanfaat di dunia maupun akhirat. Aamiin.















TPA Fastabiqul Khairat Gelar R
Senin, 2025-09-29
Sertijab Bendahara TPA Fastabi
Selasa, 2025-09-16